Pelajaran 21-2
Bagian
Pelajaran 21 – اَلدَّرْسُ الْحَادِي وَالْعِشْرُون
Isim | Kata Benda Tidak Bertanwin – اَلأَسْمَاءُ غَيْرُ الْمُنَوَّنَةِ
Kita masih berada di pelajaran dua puluh satu dari kursus bahasa Arab gratis kita. Kursus bahasa Arab ini dilengkapi dengan gambar dan audio yang akan membantu Anda mempelajari bahasa Arab.
Dalam pelajaran ini, insyaallah kita akan mempelajari kata-kata dalam bahasa Arab yang tidak memiliki tanwin (تَنْوِين – tanwīn), yaitu tanda harakat ganda pada huruf terakhir.
Dalam bahasa Arab, sebagian besar kata benda dan kata sifat memiliki tanwin. Namun, ada beberapa keadaan ketika tanwin dihilangkan. Di antaranya adalah sebagai berikut.
1. Ketika Kata Benda atau Kata Sifat Dimasuki Kata Sandang Makrifah atau Alif Lam (اَلْ)
Kita telah mempelajari di Pelajaran 3 Bagian 1 bahwa ketika sebuah kata benda (isim) dimasuki kata sandang tertentu/makrifah (اَلْ – alif-lām), kata tersebut tidak boleh menggunakan tanwin.
Contoh:
Kata:
كِتَابٌ
kitābun — sebuah buku
menjadi:
اَلْكِتَابُ
al-kitābu — buku itu / buku tersebut
Contoh lainnya, frasa:
فِي مَسْجِدٍ
fī masjidin — di sebuah masjid
jika dimasuki اَلْ, menjadi:
فِي الْمَسْجِدِ
fī al-masjidi — di masjid itu.
2. Ketika Isim Menjadi Mudhaf (مُضَافٌ)
Kita telah mempelajari dalam Pelajaran 5 Bagian 2) bahwa kata yang disandarkan atau mudhaf (مُضَافٌ – muḍāf) menjadi makrifah karena kedudukannya dalam konstruksi idhafah (إِضَافَةٌ – iḍāfah). Oleh karena itu, mudhaf tidak boleh menggunakan tanwin.
Contoh:
Kata:
كِتَابٌ
kitābun — sebuah buku
Jika disandarkan kepada:
بِلَالٌ
Bilālun
maka menjadi:
كِتَابُ بِلَالٍ
kitābu Bilālin — buku Bilal.
Perhatikan bahwa كِتَابُ tidak lagi menggunakan tanwin karena menjadi mudhaf (مُضَافٌ), sedangkan بِلَالٍ menjadi mudhaf ilaih (مُضَافٌ إِلَيْهِ – muḍāf ilaih) dan karena itu memiliki kasus genitif atau majrur (مَجْرُورٌ – majrūr).
3. Ketika Isim Diawali Huruf Nida يَا
Kita telah mempelajari dalam Pelajaran 5 Bagian 7 bahwa ketika isim didahului oleh kata/partikel panggil atau huruf nida' (حَرْفُ النِّدَاءِ – ḥarfu an-nidā’), yaitu يَا (yā), tanda harakat rangkap pada huruf terakhir diganti dengan harakat tunggal dhammah (ـُ).
Contoh:
أُسْتَاذٌ
ustādhun — seorang guru
Ketika didahului oleh يَا, tanwin pada huruf terakhir dihilangkan sehingga menjadi:
يَا أُسْتَاذُ
yā ustādhu — Wahai guru!
Jadi, أُسْتَاذٌ berubah menjadi أُسْتَاذُ setelah didahului oleh يَا.
Mari Mengulang Beberapa Contoh
Berikut beberapa contoh untuk mengingat kembali kaidah-kaidah tersebut.
Gambar | Indonesia | Alasan penghilangan tanwin | Arah |
| Buku besar itu | Kata buku ketambahan kata sandang makrifah اَلْ | |
| Buku bahasa Arab | Frasa kepemilikan (idhafah) | |
| Suami itu sedang berada di ladang. | Ketambahan kata sandang makrifah اَلْ | |
| Oh Waheed, ke mana kau pergi? | Diawali oleh huruf panggil (huruf nida') | |
| Dia adalah dekan universitas tersebut. | Frasa kepemilikan (idhafah) | |
| Hei anak-anak perempuan, di mana makanannya? | Diawali oleh huruf panggil (huruf nida') |
Silakan follow Pelajaran Bahasa Arab di Facebook, X dan Telegram Channel






Komentar
Posting Komentar